Tsunami Jangan Mengamuk Lagi | Tuesday
TSUNAMI JANGAN MENGAMUK LAGI Amir Ramdhani
Tsunami jangan mengamuk lagi betapa banyak saudara kami dijemput maut dan menangis bertubi-tubi dan kami tak kuasa menyaksikan mayat-mayat bertebaran di jalan-jalan roh mereka melayang entah ke mana rumah-rumah bertumbangan oleh lautan yang membuncah ke daratan O, apa nasib keluarga mereka O, apa nasib bayi-bayi suci tak berdosa bencana itu begitu menyeramkan menampar ibu pertiwi kami tercinta
Ibu pertiwiku, berton-ton penderitaan di pundakmu yang semakin bungkuk Beban-bebanmu semakin menumpuk Ibu pertiwi, bersabarlah ibu pertiwiku
Wahai Allah yang Maha Abadi, jangan lagi Kau tampakkan tsunami yang mungkin masih ada yang sembunyi dalam kandungan perut bumi
Januari, 2005
***** TSUNAMI IN MEMORIAM
Teringat kembali petaka tsunami itu mengobrak-abrik Aceh dan Sumut Berkali mengganggu tidur lelap malamku mukaku mendadak pucat membayangkan itu Bagaimana jika itu bencana terjadi di Ibukota Jakarta?
Bencana total, derita nasional lebih parah dari bencana korupsi dan kriminal maka jangan kalian bersikap individual berikan bantuan materi maupun moral
Ketika kita asyik tidur nyenyak di kasur busa yang empuk, mereka tidur berjejal di tikar kasar atau karpet dalam kemah-kemah pengungsian darurat
Ketika kita lahap menyantap paha ayam, mereka berebut jatah makan
Ketika kita sibuk beli baju baru buat dandan, mereka berebut pakaian bekas para dermawan
Ketika kita berbangga memencet Handphone, mereka kesakitan memencet memar luka di sekujur badan
Dan ketika kita riang bernyanyi ria, mereka muram dalam ratap tangis duka
Ah, tak usahlah kita sibuk berdebat tsunami itu ujian atau laknat tetapi marilah kita tobat membersihkan dosa-dosa yang berkarat sebab hidup ini menyeramkan; selalu saja dalam kebahagiaan bersembunyi potensi penderitaan yang mengintai kehidupan
januari, 2005
***** SAJAK TSUNAMI ACEH Widayanti
Dalam do'a kuukir nisan-nisan Kembalilah ke taman indah Berhiaskan berjuta bunga Berteman seribu bintang Berbekal seribu ayat yang kau lakoni selama di alam fana ini Termaafkan segala hilap Ini lah asa dan doa kami untukmu para syahidan.
Tak sampai 5 hari lagi angka berganti 2005 Seiring semburat keemasan diufuk timur pertanda hari kan mulai Kau pun berteriak...Allahu Akbar...Allah Maha Besar Menangis ...menjerit...mengerang Menghindar murka tsunami Tapi apalah daya manusia... Jiwamu pun lebur bersama air bah dan lelumpuran 150.000 lebih jiwa melayang Bibirku kering tak sanggup tuk mengeja nama-nama mu. Hatiku pilu... Nisan tak sanggup menampung jumlahmu Maka onggokan jiwa pun menyatu dalam satu kubur Gelap gulita... Kau berteriak dalam bunyi yang terdiam.
Jiwa yang tersisa kini mengais tanah dan reruntuhan Mencari belahan jiwa dengan penuh harap Meski akhirnya menjerit pilu terhadap kenyataan Yang lainnya... Mengisut-isut badannya Tuk mencari sesuap nasi Mencari selembar kain penutup aurat Yang lainnya Bisu berdiam diri Matanya merawang tanpa tujuan Yang lainnya... Yang lainnya... Ah rasanya kata-kata kini enggan berteman denganku Atau mereka sedang ikut berduka juga?
Kau tulis pesan dengan tinta darah dan tangisan Pada reruntuhan bangunan dan tanah merah Siapkan diri tuk menghadap-Nya Ajal kan menjemput tanpa berbincang terlebih dahulu Agar syahid dan kemenangan sebagai hasil. Kau ukir makna pada air yang menepi. Tuk membuka mata hati.
Sendai, Jan 2005
*****
*************************
Created at 1:04 PM
*************************
|
|
welcome
hello
MENU
HOME
Cinta Ku
Cinta - Al- Qur'an & Hadist
Cinta - Artikel
Cinta - Berita
Cinta - Busana & Perkawinan
Cinta - Cerita
Cinta - Doa
Cinta - Kecantikan
Cinta - Kesehatan
Cinta - Liputan Khusus
Cinta - Masakan & Minuman
Cinta - Musik
Cinta - Muslimah
Cinta - Puisi
Cinta - Rukun Iman & Islam
Links
Archieve
February 2005[x] June 2005[x] July 2005[x] August 2005[x] September 2005[x]
|
|