Sebuah Tanya Untuk Aceh | Tuesday
Sebuah Tanya untuk Aceh Puisi: Tsi Taura
Lewat layar-layar kaca kita saksikan gelombang tsunami Mengejar anak-anak manusia Menerjang, menghempas ganas siapa saja tak pandang usia atau jabatan Mayat-mayat pun bergelimpangan di jalan-jalan Berselimut koran-koran bekas Plastik-plastik cabik dan ada pula terbujur kaku Mengenaskan tanpa sehelai daun pun Gempa dan gelombang tsunami di bumi Serambi Mekah Menyisakan ketidakmampuan melukiskan kata-kata kepiluan, kesedihan, keperihan emosi dan empati Kita seakan kehilangan tinta untuk menulis kehilangan air mata untuk menangis yang tersisa adalah suci perenungan kita tak berhak menggugatNya
Tuhan, murkakah kau pada kami? ah, tak usahlah kita bertanya panjang lehiatlah betapa hati kita sendiri ingin begitu jujur menjawabnya...
*****
Denang Seratus Ribu Kunang-kunang (sebuah catatan belum selesai) Puisi: Hoesnizar Hood
Denang oi, Jangan sebut namanya Aku tak mau dengar namanya Karena sekalipun tidak dimimpipun enggan Aku tak tau engkaupun tidak Jauh dari seribu bayangan Tapi tiba-tiba dia datang
Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang Menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Denang oi, ciumlah saja kening kekasihmu dalam zikir terakhir ucapkan sekuat badai batin doa mu mengalir
Kenapa harus ombak tempat kita berdendang Kenapa harus laut tempat kita menari Kenapa harus sunyi tempat kita menyesal Kenapa harus diam tempat kita berdoa Dan kayu, tiang batu, lumpur pepohonan sembilu Pisau gelombang tak tertangkis Kenapa harus Aceh tempat kita menangis
Denang oi, Teka-teki tuhan jangan kau jawab Jangan kau lukis sketsa wajah dukamu Aku tau hatimu punah seperti punah kaca Remuk selaman musim percintaan kita Hanyut tanpa muara Patah ditebing tak berdinding Tenggelam dipuncak punca
Denang oi, Jangan sebut namanya Aku tak tau namanya Tak hendak karena siapa dia Tak tau karena tak ingin tau Merah hitamkah atau biru Seperti biru bibirku menyebut namamu
Pangillah tangis kalaupun masih dapat kita timba airmata Siat-lah pedih kalaupun dapat kita selam sedepa luka Pujuklah maut kalaupun mati dapat kau lihat bentuknya
Denang oi, Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang Menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Pujuk sekerat zikirmu jadi pualam Telan bayang-bayang hitam yang tenggelam Bersama harapan sezaman
Seratus ribu kunang-kunang pergi Adalah harapan yang kita titipkan membawa doa masa depan Menuju matahari ke sebuah negeri abadi,
Denang oi, Seratus tahun kenangan tergenang Seratus senandung mendung Seratus ratap senyap
Tapi satu cinta ku akan segera datang berlabuh diserambi hatimu yang bimbang
*****
Atjeh di Penghujung Kata (Tsunami 2004) Puisi: Iman Arifandi
Lahir aku di bumimu Ibu Lahir aku pada puisi membisu Bisu pada tanah yang tak ramah Bisu pada laut yang kalut Apakah aku harus berpegang Pada ganggang berhulu pedang Coba hadang maut yang membentang Sedang aku tahu
Aku hanya punya puisi Dikala aku membendung amarah dan cobaan Illahi Coba tangkap sepah Yang mengalirkan darah Membujurkan ribuan jasad di tanah Dan memuingkan kokohnya titah Pada maut... Pada maut aku kalungkan resah Resah pada alam yang merekah marah Membelah tuah menghanyutkan kisah
Atjeh di penghujung kata... Ribuan masa, laut memberi arti Menyimpan janji untuk anak negeri Kini laut memungkiri Dengan mengirimkan ribuan peti mati Dan mengoyak luka Ibu Pertiwi Adalah masa kemasa berkelana dengan lautan mesiu Kini harus menanggung seru dalam lautan pilu Adakah setitik cobaan darimu Ya Rabby
Atjeh di penghujung kata... Beri aku kias sejarahmu Aku tak mau seribu tengku membatu Dalam pigura rencong negeri berpenghulu Terlalu banyak yang kau beri wahai tanah serambi Dari kisah antah berantah sampai rencong yang berdarah Sampai aku pada malu Hanya puisi pengantar setitik rasa Sedangkan malang tak terbilang Pada tanah yang hampir hilang
Atjeh di penghujung kata... Seribu Tsunami mengukir lembah Membelah resah Diantara sengketa tanah yang tak sudah Kala barisan maut meniti bumi Pertiwi Menghadang setiap jengkal yang menghela masa Sudahkah aku berkata? Aku tak tahu adakah sekarat di ujung barisan nikmat Lelah aku untuk mengatur langkah Sampai aku pada malu Malu aku pada marah Malu aku pada serapah Malu pada keluh kesah Sedang aku hanya merangkai kata dalam lautan puisi
Seribu puisi mampu aku beri Seribu kata mampu aku meraja Seribu rencong mampu aku gendong Tapi aku hanya ada sepah Adakah aku di ujung resah?
Atjeh di penghujung kata... Diam aku tak bersuara Habis baris untuk aku merangkai Peluhpun aku tak punya Kuburkan aku bersama puing-puing anak negeri Ingin aku meraba Dalam gelapnya asa Merangkai langkah dalam titah Tapi aku hanya sepenggal mimpi Buat aku hadirkan siang yang telah mati
Atjeh dalam barisan doa... Beri aku selangkah masa Buat aku melihat dalam rasa Biar kata tak lagi bermakna Biar jiwa tak lagi beraga Biar napas tak lagi mengulas Atjeh dalam kata... Tujuh rencong telah aku siapkan Tujuh petala bumi pengambil tuah Buat aku tengadah Ya...Rabby... Atjeh... Aku hanya ada sepenggal puisi...
Dabo Singkep,30-12-04
*****
*************************
Created at 2:57 PM
*************************
|
|
welcome
hello
MENU
HOME
Cinta Ku
Cinta - Al- Qur'an & Hadist
Cinta - Artikel
Cinta - Berita
Cinta - Busana & Perkawinan
Cinta - Cerita
Cinta - Doa
Cinta - Kecantikan
Cinta - Kesehatan
Cinta - Liputan Khusus
Cinta - Masakan & Minuman
Cinta - Musik
Cinta - Muslimah
Cinta - Puisi
Cinta - Rukun Iman & Islam
Links
Archieve
February 2005[x] June 2005[x] July 2005[x] August 2005[x] September 2005[x]
|
|